Senin, 02 Maret 2009

Suromo, Seniman Pelopor Seni Grafis Cukil Kayu Itu Telah Tiada


Kamis, 23 Januari 2003, Yogyakarta,Kompas - Perupa Suromo Darposawego (1919-2003), yang pernah hidup berkesenian bersama almarhum Affandi, H Widayat, hari Rabu (22/1) siang pukul 13.30 meninggal dunia setelah dua tahun menderita sakit. Tak ada kebesaran yang ditinggalkan oleh almarhum yang tinggal di daerah Lempuyangan, Yogyakarta, ini selain nama besarnya sebagai seniman yang sering dijuluki sebagai penggali ide-ide baru tentang dunia seni rupa, mulai dari seni lukis, patung, relief, ahli keramik, dan yang utama adalah pelopor seni grafis cukil kayu (wood cut).

"Kebesaran bapak adalah sikap pamomong-nya kepada anak-anaknya. Kendati hidup menderita dengan tujuh anak, bapak selalu sabar dalam memberikan kasih sayang untuk keluarga. Bapak juga punya sikap nrimo, apa pun yang terjadi dalam keluarga selalu ia terima sebagai bagian dari kehidupan," kata Reko Ananto Mulat (44), salah satu anak sang perupa.

Didampingi kakaknya, Niken Anjarwulan (50), Reko menambahkan, ayahnya yang akan dikebumikan hari Kamis, 23 Januari, pagi ini, tidak dimakamkan di kompleks Makam Seniman Imogiri Yogyakarta, namun akan dimakamkan di pemakaman kampung Lempuyangan. "Di samping dekat dengan kerabat, ibu juga tidak terlalu kejauhan jika menjenguk bapak," ujarnya.

Pelukis Djoko Pekik yang banyak mengetahui kehidupan almarhum menyatakan, almarhum adalah tokoh lama, tokoh karya grafis dengan cukil kayu, tokoh Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) dan juga anggota Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Namun, di hari tuanya menjadi terlupakan karena peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Dia menjadi minder dan trauma karena namanya tidak lagi kuat terekspos. Dia pun menjadi seniman yang kurang gaul, dan itu sangat berpengaruh pada karya-karyanya.

Pelukis Marah Djibal menyebutkan bahwa almarhum dikenal juga sebagai seniman yang selalu menggugat untuk terus belajar. Marah Djibal adalah pelukis yang pernah diajak oleh Suromo mengerjakan proyek relief di VIP Room Airport Kemayoran (1957-1959), proyek relief di Kebun Binatang Surabaya, dan membuat relief di Gombong (1959-1960).

Seniman Jim Supangkat, ketika memberi kata pengantar dalam pameran tunggal Suromo di Galeri Lontar, Jakarta, tahun 1998, mencatat ulasan Sanoesi Pane saat Suromo mengikuti pameran Seni Rupa Modern Indonesia tahun 1941. Dalam ulasannya, Sanoesi Pane menyatakan, Suromo adalah seorang perintis seni rupa modern Indonesia.

Menurut dua anaknya, Niken Anjarwulan dan Reko Ananto Mulat, bapaknya tidak meninggalkan kekayaan apa-apa selain karya-karya lukis yang dipajang secara sembarangan di rumahnya yang sangat sederhana. "Kendati sudah tua, sampai akhir hayatnya bapak tetap terus berkarya. Jarang sekali bapak keluar rumah, selain menggambar. Tidak lagi membuat cukilan kayu, tetapi karya lukis cat minyak. Umumnya karya lukisnya realis," kata Reko. (TOP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar