Jumat, 17 April 2009

hangout #2

HANG OVER
Hang-out n(infml) a place where one lives or wich one visits often
...oxford advanced learner's dictionary


Mari sejenak kita menyempatkan diri pergi ke taman malam, bertabur lampu remang kelap-kelip dan ditingkahi tawa lepas teman-teman…lets the night roll, hang it out…
Hang out mengacu pada konteks tempat dan aktivitas yang berkaitan dengan hal-hal diluar formalitas dan rutinitas yang cenderung stagnan. Konteks tempat dalam hang-out berrelasi dengan terselenggaranya semacam hajatan yang mempertemukan sekian banyak individu dalam kepentingan yang sama yakni pelepasan ketegangan akibat rutinitas yang dijalani. Selama ini hang out sekedar dimaknai sebagai aktivitas yang cenderung berkonotasi negatif semacam nongkrong, ketawa-ketiwi, ngerumpi yang tidak jelas dan semacamnya, namun sebenarnya justru dari sinilah seringkali memunculkan ide-ide segar mengingat aktivitas hang out terlepas dari formalitas dan hal-hal yang dipandang memiliki aturan baku atau mengikat, hang out memiliki pola tersendiri jika dikaitkan dengan sebuah proses kreatif yakni atmosfer kebebasan yang sangat memungkinkan tumbuh suburnya benih-benih kreatifitas yang membutuhkan kanal penyaluran.Okelah apapun yang berlaku tampaknya disini saudara-saudra dari Koloni Cetak hendak memberikan makna baru terhadap aktivitas yang satu ini, Koloni Cetak sebagai kelompok yang notabene memilih seni grafis sebagai media berkesenian tampaknya sadar benar mengenai pemilihan tema ini untuk memberikan kemungkinan yang lebih luas dalam memaknai seni grafis itu sendiri. Dari sinilah tampaknya hang-out sebagai tema event pameran seni grafis cukup potensial dalam mewadahi serta menyuarakan penyegaran dan pembaruan. Penyegaran atau apapun aktivitas yang melepaskan segenap ketegangan ini saya rasa dapat dibaca sebagai upaya perjuangan dalam memasyarakatkan seni grafis itu sendiri sebagai media yang cenderung kurang populer di masyarakat sebagai sebuah media ekspresi (seni). Sedangkan mengenai Konsep hang-out (pelepasan kejenuhan terserah kemudian bagaimana setiap seniman membacanya) yang dipilih kali ini sebenarnya adalah kodrat dari seni yang selalu menyeret kearah medan ekspresi individu bagaimanapun bentuknya ketika karya seni adalah sebuah sudut pandang yang mau tidak mau akan selalu bersifat subyektif.
Seni grafis lebih merujuk pada hal keteknikan tertentu ketimbang sebagai genre terbuka yang permisif terhadap masuknya teknik lain(misalnya seni lukis yang memiliki keterbukaan terhadap segala macam teknik yang digunakan tanpa kehilangan jati diri karya akhirnya yaitu lukisan) diluar perihal cetak mencetak yang mempersyaratkan adanya master cetakan dan kemampuannya untuk diduplikasi tanpa harus kehilangan otentisitasnya selain masalah teknis (membuat master cetakan baik dengan cukilan kayu, etsa, penintaan sampai dengan proses pencetakannya, dalam hal ini menunjuk pada teknik grafis manual) yang bagi sebagian orang mungkin terlalu merepotkan sebagai sebuah media ekspresi menjadikannya lebih dipandang sebagai produk industri yang cenderung tidak mementingkan otentisitas sebuah karya dan kemudahannya dalam penduplikasiannya, sehingga karya grafis dianggap sama dengan karya reproduksi yang dapat diperbanyak secara masal yang dengan segera berbenturan dengan masalah otentisitas seperti telah disebut diatas. Sifat-sifat tersebutlah yang sebenarnya sampai saat ini masih berperan cukup besar terhadap paradigma marjinalisasi seni grafis sebagai seni murni kelas dua dari sudut orisinalitas atau paling tidak persiapan berkarya yang menuntut sekian banyak langkah menjadikannya tidak begitu populer sebagai pilihan media ekspresi seni, dan sampai saat ini seni grafis tampaknya masih sibuk berkutat dengan permasalahan klasik ini. Kalaulah benar pameran kali ini dimaknai sebagai perjuangan dalam mempopulerkan seni grafis dan dari sini diharapkan kenaikan status karya grafis itu sendiri, maka hal ini sangat positif mengingat selama ini sangat jarang event yang khusus menampilkan seni grafis baik praksis maupun pewacanaannya, terlebih lagi tema Hang-out ini membuka kemungkinan yang sangat luas untuk munculnya alternatif-alternatif baik dari segi tema, teknik maupun wacana yang diharapkan mampu mencairkan kebekuan yang selama ini melanda media yang satu ini khususnya ketika hal ikhwal cetak-mencetak harus menjadi media ekspresi seni. Pemahaman dan apresiasilah yang idealnya kemudian mengikuti perkembangan seni grafis ini karena yang sedang diperjuangkan disini tidak sekedar secara praktik namun juga adalah pewacanaan dan segi apresiasi yang lebih fundamental, mengutip AD. Pirous adalah bagaimana mengembangkan aspek dasar dari multiplikasi yang terjadi dalam proses berkarya kedalam ekspresi baru dalam proses memamerkan, dan lebih jauh mampu memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi dunia seni rupa pada umumnya. Kalaulah seni grafis(murni) selama ini dipandang kurang populer, maka sesungguhnya yang perlu diperjuangkan adalah bagaimana kontinuitas perjuangan seni grafis itui sendiri dan dengan demikian event semacam Hang-out menjadi penting posisinya. Sampai disini tema Hang out menjadi semacam narasi besar yang idealnya akan mampu memposisikan seni grafis menjadi media yang lebih popular baik secara praktik maupun dari segi pewacanaannya, terlepas dari sudut manapun tema ini dibaca dan disikapi oleh para pendekar cetak yang turun gelanggang kali ini… a place where one lives or wich one visits often, often disini menuntut kontinuitas tentu saja, setidaknya untuk memenuhi definisi hang out itu sendiri


Dhidhik Danardhono
South Coast. Summer 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar