Rabu, 25 Maret 2009


song of freedom
hardboardcut 3/7
33 x25

Senin, 23 Maret 2009

Pameran seni grafis - Hangout#2

Pameran Seni Grafis

Pameran seni grafis

Hangout#2

Sesuai dengan istilah yang dipakai sebagai tema pameran ini, Hangout; suatu proses yang berawal dari kehendak untuk mengurangi atau menghilangkan rasa yang biasa disebut dengan ‘jenuh’. Entah hal tersebut karena situasi atau pola kebiasaan yang telah dilakukan secara monoton, atau mungkin yang lainnya. Hal ini kelihatannya hanya sering terjadi di setiap kehidupan manusia dewasa. Seniman dalam hal ini adalah manusia dewasa, dan pasti pernah melalui situasi seperti ini.

Beberapa seniman menyiasati hangout dengan berkarya, atau jalan-jalan tanpa tujuan, atau mungkin dengan aktifitas ekstrim yang membutuhkan adrenalin atau yang lainnya yang lebih kreatif. Dengan maksud agar mendapatkan pola yang beda dalam kehidupannya atau dapat juga kita sama artikan sebagai refresh atas situasi keseharian yang selalu sama.

Dalam pameran ini harapan yang dibangun adalah kebersamaan dalam mempresentasikan sebuah konflik yang memaknai sebuah realitas keseharian yang memudarkan ruang batas antara hingar-bingar dengan kecarutmarutan.

Dalam hal ini pengkaryaan sebagai proses pencitraan yang diawali atas peristiwa yang sedikit banyak memaknai aktifitas hangout untuk menemukan penyelesaian atas persoalan kejemuan dan kejenuhan.

Ketentuan karya

  • Dalam pameran ini media pengungkapan atas ide dan gagasannya melalui seni grafis. Hal ini terbatas sesuai dengan medium-medium seni grafis yang telah berkembang hingga saat ini.
  • Ukuran karya maksimal lebar 50 x 300cm.

Konsep pameran

Dalam pameran ini seniman akan di bebaskan merespon ruang kecil yang berbentuk kotak dengan ukuran ruangan 4 x 9 x 3meter.

Dalam situasi ini karya satu dengan lainnya terbuka untuk saling bersinggungan dalam maksud saling merespon.

Tempat

Galeri minimalis-kedai belakang

Jl. Taman Siswa, Mergangsan Kidul Mg II/1253

Yogyakarta

Waktu

Tanggal 12 s/d 22 april 2009

Peserta

Peserta pameran adalah umum

Dalam hal ini mereka yang kemudian telah menyetujui persyaratan yang panitia berikan. (mengisi formulir dan membayar iuran sebesar Rp. 50.000,-)

Jadwal aktifitas yang berkaitan dengan persiapan dan agenda lainnya:

Kegiatan

Tanggal

-

-

-

-

-

-

-

-

Pengumpulan formulir

Pengumpulan foto karya

Pengumpulan data karya

Pengumpulan curriculum vitae

Pengumpulan karya

(karya dikumpulkan dikedai belakang)

Display karya

Pembukaan

(tanggal 12 April 2009, pukul 19.30wib – selesai)

Pengembalian karya

20 maret 2009

31 maret 2009

31 maret 2009

31 maret 2009

7 - 9 april 2009

11 – 12 april 2009

12 april 2009

23 – 30 april 2009




Formulir

Nama:

Alamat:

Aktifitas terakhir berkesenian:

Karya yang akan di pamerkan:

Karya I

Judul:

Ukuran:

Teknik:

Tahun pembuatan:

Karya II

Judul:

Ukuran:

Teknik:

Tahun pembuatan:


Kuitansi Bukti Pembayaran Iuran Pameran “Hangout”

Telah diterima dari

Sebesar

Terbilang

:

:

:

.........................................................................

Rp.

.........................................................................



Yogyakarta, Maret 2009

Penerima

( .................................... )





Senin, 02 Maret 2009

Seni Grafis Makin Diminati Meski Sulit Memasarkan Karyanya







Bandung, Kompas - Seni grafis yang rumit dalam pengerjaan, tetapi sulit dipasarkan di Indonesia, ternyata diminati anak-anak muda. Di masa datang, pegrafis Indonesia memiliki peluang berkarya di luar negeri.

Tisna Sanjaya, seniman grafis asal Bandung, yang juga dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (22/11), di Galeri Rumah Teh, melaksanakan syukuran babak baru kehidupan keseniannya.

Karya-karya grafisnya yang dibuat dari masa kuliah hingga tahun 2006 ditukar dengan sebuah mobil baru berharga ratusan juta rupiah. Selama ini karya grafis sulit dijual di Indonesia.

Menurut Tisna, barter karya seni dengan karya industri yang dilakukannya adalah sebuah cara agar seni grafis dikenal publik. Selama ini di Indonesia seni grafis dinilai sebagai seni kelas dua.

Pembeli karya Tisna akan menjadi manajer bagi Tisna agar karya- karyanya bisa dikenal dunia. Tisna berharap bisa bekerja dalam waktu tertentu di studio-studio di luar negeri, lalu kembali ke Indonesia. Tidak seperti di Indonesia, di luar negeri, seperi Belanda, Jerman, dan Jepang, banyak terdapat studio grafis.

"Saya berharap pegrafis Indonesia tidak mengandalkan infrastruktur seni grafis di Indonesia yang lingkungannya kurang kondusif. Mereka bisa berkarya di studi-studio di luar negeri sehingga pegrafis Indonesia suatu saat bisa dikenal di dunia internasional," kata Tisna.

Menurut Tisna, semakin banyak mahasiswa yang berminat mempelajari seni grafis. Dicontohkan, di ITB jumlah peminat seni grafis makin banyak meskipun tidak semua lulusannya memilih menjadi pegrafis karena kerumitan proses kerja dan alat seni grafis.

"Saya menduga banyak anak muda yang tertarik menjadi mahasiswa seni grafis karena melihat dosen-dosennya masih terus berkarya," kata Tisna.

Sementara itu, mengenai sedikitnya mahasiswa seni grafis yang melanjutkan profesi sebagai pegrafis, Tisna mengaku belum mengetahui pasti penyebabnya. Namun, diperkirakan karena sulitnya menjual karya grafis.

Namun, ia optimistis di era digital, karya grafis manual, seperti seni grafis, akan makin dicari dan dinilai sebagai barang antik. Tisna mengaku mendalami seni grafis karena menyukai proses pembuatannya yang rumit.

Menurut Isa Perkasa, kurator Galeri Rumah Teh, galerinya mengadakan pameran seni grafis sekitar dua kali dalam setahun. Menurut dia, seniman grafis masih sedikit. "Orang yang mempelajari seni grafis biasanya kalau sudah lulus pindah jalur, tidak lagi menjadi pegrafis," kata Isa.

Isa mengatakan sedikitnya orang memilih menjadi seniman grafis karena rumitnya proses kerja seni grafis. Untuk membuat karya etsa, seseorang harus menoreh pelat, lalu mengasamkan, dan mencetaknya. Dibutuhkan studio khusus, tidak mungkin melakukannya di rumah. "Zat asam yang digunakan bisa mengganggu pernapasan anggota keluarga," ujarnya.

Isa yang pernah mendalami seni grafis akhirnya pindah jalur dengan alasan yang sama. Menurut Isa, dalam sekali pengerjaan karya, biasanya dibutuhkan waktu rata-rata sekitar dua minggu. Selama ini karya seni grafis yang dipamerkan di Galeri Rumah Teh biasanya dijual dengan harga Rp 2 juta-Rp 3 juta per karya. (ynt)